Teddy: Program Magang Nasional Siapkan Penghasilan Rp3,5-Rp6 Juta

by -124 views

JAKARTA – Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa Program Magang Nasional (PMN) 2026 yang diluncurkan pemerintah menawarkan gaji bagi peserta magang berkisar Rp3,5-6 juta per-bulan.

“Selama mengikuti magang, para peserta mendapatkan gaji sekitar Rp3,5 sampai Rp6 juta per-bulan tergantung upah minimum Kabupaten/Kota tempat ia bekerja,” kata Seskab Teddy saat pembukaan Program Magang Nasional 2026 di Jakarta sebagaimana dikutip dari Antaranews, Senin (29/6/2026).

Teddy mengungkapkan, PMN merupakan inisiatif langsung Presiden Prabowo yang dijalankan sejak 2025 melalui Kementerian Ketenagakerjaan.

Tujuannya menjembatani lulusan perguruan tinggi agar lebih mudah memasuki dunia kerja dan menyasar lulusan sarjana, penyandang disabilitas, serta peserta dari berbagai profesi.

Baca Juga: Mendagri Tito Jelaskan soal Kabar 2 Desa di Nunukan Masuk Malaysia

“Salah satu ‘PR’ pemerintah yang terus ada sejak dulu adalah bagaimana caranya mahasiswa khususnya S1 yang lulus kuliah bisa langsung dapat kerja dan dapat gaji,” ujarnya.

Menurut Teddy, selain memperoleh penghasilan peserta PMN juga akan mengikuti masa magang selama enam bulan di perusahaan mitra serta mendapat pendampingan dari mentor.

Hal ini diberikan untuk meningkatkan keterampilan kerja.

“Peserta PMN dilatih dan didampingi oleh mentor atau pekerja senior perusahaannya agar skill bertambah. Tahun ini juga tidak hanya merekrut lulusan S1, tetapi juga dari profesi dan saudara kita dari difabel,” kata Teddy.

Sebagai informasi, jumlah peserta PMN pada 2026 ditingkatkan menjadi 150 ribu orang dari 100 ribu peserta pada tahun sebelumnya.

Rencananya, 150 ribu orang peserta PMN akan ditempatkan di sekitar 8.800 perusahaan milik BUMN maupun swasta di berbagai daerah.

Sebelumnya, kata Teddy, PMN pada tahun pertama menunjukkan hasil positif, dimana sekitar 30 persen atau sekitar 30 ribu direkrut menjadi pegawai tetap setelah menyelesaikan masa magang.

Sementara itu, 30 persen lainnya masih menunggu panggilan kerja dalam kurun dua hingga tiga bulan.

“Artinya program ini juga adalah jembatan nyata bagi mahasiswa yang lulus untuk dapat langsung bekerja dan mendapat penghasilan,” kata Teddy.